Re: Indonesian Human Cases Oct 20+
Re: Indonesian Human Cases Oct 20+
On the Tangerang child S :
According to this report, dated october 30,
the father refused treatment, he went home,
the child stayed in hospital.
May be I can translate it, cannot copy and paste it, if anyone can do it, would be great!
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=45654
Edit: I received the text from Christian, thanks! Report has more details on the discussion between father and doctors. More to follow.
Here you go! I got it off the "print"
page by viewing "page source":
Balita Suspect Flu Burung Dibawa Kabur
Selasa, 30 Oktober 2007, 10:35:50
Tangerang, myRMnews. Mengaku kakeknya yang berada di Madura sedang sakit parah, Ahmad (35) tega membawa kabur anaknya berinisial SA (3) dari Rumah Sakit Sulianti Suroso, Jakarta. Padahal anak itu tengah dirawat karena positif terinfeksi avian influensa H5N1 atau virus flu burung.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu lalu (27/10). Pasien yang tak lain warga RT 05 RW 01, Desa Suka Asih, Kecamatan Pasar Kemis, dibawa kabur ayahnya pada saat dokter rawat tengah menelpon pihak Puskesmas Kecamatan Pasar Kemis yang merujuk pasien tersebut.
Menurut keterangan Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hj Yuliah Iskandar. SA positif mengidap flu burung ketika Dinkes melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga yang tinggal didesa tersebut. Pasalnya, salah satu warga di RT 05 RW 01, desa setempat berinisial DA (4,6) pada tanggal 22 Oktober yang lalu meninggal dunia akibat menderita flu burung. DA meninggal ketika hendak dirujuk ke RS Sulianti Suroso.
Kemudian pada Senin (22/10), dikabarkan ada warga yang menderita suspect serupa yaitu SA. Pada saat diperiksa, anak laki-laki usia tiga tahun itu mengalami sakit panas. Setelah diambil sampel darahnya ternyata SA positif menginap flu burung.
Lalu Dinkes mengobatinya dengan memberi obat tami flu yakni obat flu burung dan meminta kepada keluarga pasien agar SA dirujuk ke RS Sulianti Suroso, karena khawatir mengalami pemburukan. Tapi sayangnya, Ahmad menolak. Namun setelah beberapa kali dibujuk akhirnya pihak keluarga menerimanya.
Tepat pada Jum'at malam (26/10), SA dilarikan ke RS Sulianti Suroso. Baru dirawat satu malam, keesokan harinya, Sabtu (27/10) Ahmad tiba-tiba kembali berubah pikiran dan ngotot minta pulang. Tapi sayang, upaya membujuk pihak RS saat itu gagal. "Bapak boleh pulang, tapi anak bapak tetap tinggal disini," ujar Yuliah menirukan perkataan dokter yang menangani SA.
Terselang beberapa jam kemudian, ayah pasien kembali membujuk dokter agar diijinkan pulang membawa SA, dengan alasan kakeknya yang berada di Madura sedang mengalami sakit keras. Karena memaksa, dokter RS Sulianti Suroso pun memberitahukannya ke pihak Puskesmas Pasar Kemis. Namun pada saat komunikasi antara dokter Sulianti Suroso dengan dengan pihak Puskesmas melalui telepon berlangsung, ayah SA secara diam-diam kabur dengan membawa anaknya meninggalkan RS.
Menerima kabar tersebut, Dinkes Kabupaten Tangerang langsung melakukan pelacakan. "Kami langsung menghubungi instansi-instansi yang ada di Madura untuk melakukan pencarian, tapi jawaban informasi diterima ternyata Ahmad tidak ada di Madura.
Tidak hanya di Madura, Dinkes juga memeriksa tempat tinggal Ahmad di Desa Suka Asih, namun saat itu yang bersangkutan belum juga ditemukan.
Informasi terakhir yang diterima Redaksi, Ahmad dan anaknya telah ditemukan berada dirumahnya. kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Dr Hani Harianto mengatakan, pasien dan orang tuanya sudah berada dirumahnya. Saat ini pasien berada dibawah pengawasan ketat Dinkes dan puskesmas Pasar Kemis.
"Kami menugaskan beberapa orang dari Puskesmas untuk mengawasi pasien dan memberikan obat secara rutin," kata Hani.
Selain itu, pasien juga dilarang untuk bersentuhan langsung, baik dengan hewan ternak maupun dengan warga sekitar. "Karena kondisi pasien sudah membaik, mungkin mereka akan kami awasi selama 5 sampai 7 hari," jelasnya.
Sejak tahun 2005 hingga saat ini, sambung dia, jumlah korban flu burung di Kabupaten Tangerang mencapai 13 orang. 11 orang meninggal dan dua orang selamat.