Snowy Owl
Retired in 2010, In Memoriam
Credit to Flu Wiki
**Can one of our members translated please **
Snowy
Dari substansi, Rendah diri hingga jati diri
Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) mengundang Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.Jp (K) berbicara pada acara studium generale, dihadapan para mahasiswa Hubungan Internasional (HI) FISIP UI, pada hari hari Senin pagi (07/04) di Gedung AJB Bumiputera, Kampus Depok. Acara tersebut digelar Departemen HI FISIP UI dalam rangka menimba pengalaman dari Menteri Kesehatan tentang keberhasilan beliau dalam berdiplomasi dan bernegosiasi mengenai virus flu burung pada sidang WHO.
Pada kesempatan itu Menteri Kesehatan memaparkan perjuangannya berdiplomasi dalam sidang Inter- Governmental Meeting (IGM) World Health Organization (WHO) di Jenewa tahun 2006, mengenai virus flu burung, yang menghebohkan itu. Kini pengalaman beliau sudah dibukukan dengan judul ?Saatnya Dunia Berubah? dan telah dicetak dalam edisi bahasa Inggris dengan judul ?It?s Time for the World to Change?.
Seperti diketahui, dalam sidang WHO yang berlangsung di Jenewa, muncul isu tentang virus flu burung dari Indonesia yang dikirim kepada WHO, ternyata anti virusnya sudah dibuat oleh salah satu negara maju. Dan ketika Indonesia ingin mengetahui tentang hasil penelitian virus flu burung tersebut tidak diperbolehkan dengan alasan hanya para anggota dari negara tertentu saja yang boleh mengetahuinya.
Spirit dari buku itu, tidak memusuhi bangsa manapun dan negara manapun, tetapi spirit yang berkobar untuk menuntut kesetaraan, dalam hubungan antar bangsa. Tidak ada lagi eksploitasi dari bangsa yang kuat ke bangsa yang lemah. Jangan ada lagi peraturan internasional yang terselubung misi-misi kemanusiaan, padahal sebenarnya mengandung perampasan hak bahkan penindasan dari bangsa maju ke dunia ketiga
Menurut pengakuan Siti Fadilah Supari, pada sidang WHO itu, dia melakukan diplomasi tanpa dibekali pengalaman diplomasi sama sekali. Berbeda dengan kebiasaan diplomasi yang lazim dimana lebih mengedepankan kompromi, dalam hal ini Menteri Kesehatan justru melakukan diplomasi tanpa kompromi, hingga mengalami deadlock, karena memegang teguh keyakinan kedaulatan dan kehormatan bangsa tidak bisa dikompromikan. Ternyata prinsip yang dipegang teguh ini mendapat dukungan penuh dari delegasi negara berkembang lainnya. Kunci kesuksesannya dalam berdiplomasi terletak pada penguasaan substansi, tidak rendah diri dan mengedepankan jati diri bangsa.
Dari pengalamannya itu, doktor spesialis jantung asal Solo ini merasa perlu untuk datang ke kampus-kampus melakukan dialog dan menanamkan nilai-nilai jati diri bangsa. Kenapa harus ke kampus? Karena di kampuslah nilai-nilai kebenaran obyektif senantiasa muncul dari cara berpikir ilmiah atas dorongan hati nurani , dimana ini merupakan benteng yang kokoh dalam menghadapi ancaman pihak luar yang sarat dengan kepentingan politik tertentu yang membahayakan peradaban manusia. Kampus menjadi pintu gerbang emas untuk membangun mindset, menggembleng orang-orang yang akan menjadi panutan di masa depan, sekaligus juga tempat yang strategis untuk mengubah mindset para calon pemimpin masa depan bangsa menurut kemauan bangsa lain.
(humas-ui/7 April 2008)
**Can one of our members translated please **
Snowy
Dari substansi, Rendah diri hingga jati diri
Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) mengundang Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.Jp (K) berbicara pada acara studium generale, dihadapan para mahasiswa Hubungan Internasional (HI) FISIP UI, pada hari hari Senin pagi (07/04) di Gedung AJB Bumiputera, Kampus Depok. Acara tersebut digelar Departemen HI FISIP UI dalam rangka menimba pengalaman dari Menteri Kesehatan tentang keberhasilan beliau dalam berdiplomasi dan bernegosiasi mengenai virus flu burung pada sidang WHO.
Pada kesempatan itu Menteri Kesehatan memaparkan perjuangannya berdiplomasi dalam sidang Inter- Governmental Meeting (IGM) World Health Organization (WHO) di Jenewa tahun 2006, mengenai virus flu burung, yang menghebohkan itu. Kini pengalaman beliau sudah dibukukan dengan judul ?Saatnya Dunia Berubah? dan telah dicetak dalam edisi bahasa Inggris dengan judul ?It?s Time for the World to Change?.
Seperti diketahui, dalam sidang WHO yang berlangsung di Jenewa, muncul isu tentang virus flu burung dari Indonesia yang dikirim kepada WHO, ternyata anti virusnya sudah dibuat oleh salah satu negara maju. Dan ketika Indonesia ingin mengetahui tentang hasil penelitian virus flu burung tersebut tidak diperbolehkan dengan alasan hanya para anggota dari negara tertentu saja yang boleh mengetahuinya.
Spirit dari buku itu, tidak memusuhi bangsa manapun dan negara manapun, tetapi spirit yang berkobar untuk menuntut kesetaraan, dalam hubungan antar bangsa. Tidak ada lagi eksploitasi dari bangsa yang kuat ke bangsa yang lemah. Jangan ada lagi peraturan internasional yang terselubung misi-misi kemanusiaan, padahal sebenarnya mengandung perampasan hak bahkan penindasan dari bangsa maju ke dunia ketiga
Menurut pengakuan Siti Fadilah Supari, pada sidang WHO itu, dia melakukan diplomasi tanpa dibekali pengalaman diplomasi sama sekali. Berbeda dengan kebiasaan diplomasi yang lazim dimana lebih mengedepankan kompromi, dalam hal ini Menteri Kesehatan justru melakukan diplomasi tanpa kompromi, hingga mengalami deadlock, karena memegang teguh keyakinan kedaulatan dan kehormatan bangsa tidak bisa dikompromikan. Ternyata prinsip yang dipegang teguh ini mendapat dukungan penuh dari delegasi negara berkembang lainnya. Kunci kesuksesannya dalam berdiplomasi terletak pada penguasaan substansi, tidak rendah diri dan mengedepankan jati diri bangsa.
Dari pengalamannya itu, doktor spesialis jantung asal Solo ini merasa perlu untuk datang ke kampus-kampus melakukan dialog dan menanamkan nilai-nilai jati diri bangsa. Kenapa harus ke kampus? Karena di kampuslah nilai-nilai kebenaran obyektif senantiasa muncul dari cara berpikir ilmiah atas dorongan hati nurani , dimana ini merupakan benteng yang kokoh dalam menghadapi ancaman pihak luar yang sarat dengan kepentingan politik tertentu yang membahayakan peradaban manusia. Kampus menjadi pintu gerbang emas untuk membangun mindset, menggembleng orang-orang yang akan menjadi panutan di masa depan, sekaligus juga tempat yang strategis untuk mengubah mindset para calon pemimpin masa depan bangsa menurut kemauan bangsa lain.
(humas-ui/7 April 2008)