Re: Indonesia - Family in Karo suspected of having bf
Re: Indonesia - Family in Karo suspected of having bf
<TABLE class=contentpaneopen><TBODY><TR><TD class=contentheading width="100%">Gubsu: will be built the Special Room of the Handling of the Epidemik Case </TD><TD class=buttonheading align=right width="100%">

</TD><TD class=buttonheading align=right width="100%">
</TD><TD class=buttonheading align=right width="100%">
</TD></TR></TBODY></TABLE><TABLE class=contentpaneopen><TBODY><TR><TD vAlign=top align=left width="70%" colSpan=2>
Written by editorial staff </TD></TR><TR><TD class=createdate vAlign=top colSpan=2>On Tuesday, on May 16 2006 </TD></TR><TR><TD vAlign=top colSpan=2>Medan (SIB)
Six casualties died in RS H Adam the Owner three days are still known
His cause positively after receiving confirmation from the Centre of International Hong Kongese Bird Flu. The matter is, until at this time casualties died still was stated as probable case bird flu produced by the Puslitbangkes inspection and WHO.
Was like this it was said Gubsu, Drs Rudolf M Pardede that in accompanied the Section Head the Propsu Health, Dr Hj Fatni Sulani, Director RS H Adam the Owner, drg H Armand P Daulay M. Cash, the Section Head Livestock Breeding, A the Siregar Uterus to the reporter ended considered casualties that at this time was treated intensively in RS H Adam the Owner, Medan, on Monday (15/5).
According to Gubsu, five from six patients who were treated in RS H Adam this Medan Owner died, another still in the intensive maintenance, likewise a person who was treated in RS Elisabeth Medan. From five specimen that was investigated, four including being stated probable (positive had an opportunity), whereas from Namroe-WHO, from 5 specimen all of them positive.
?Hasil this still was probable and in accordance with the provisions and the procedure, the conclusion of the end was still needing confirmation from the Centre of International Laboratory Reconciliation Bird Flu in Hong Kong. That had the authority to announce him was RI Health Minister or the official of the echelon of I Depkes,? he said.
In the same place, Hj Fatni Sulani said in an epidemiological manner, still could not be determined by the source of the certain spread, but it was suspected still came from one same source. Moreover, was not yet known by the existence of the spread from humankind to humankind, so as to have to continue to be done by observation continually.
?Saat this has been konfirmai orally from Puslitbangkes. But did not yet have the report was written. Was based on these findings was maintained by us his status to probable case or a level above suspect, because of having results of the local laboratory inspection. However the increase in the status became positive still was waiting for results of the laboratory in Hongkong,? said Fatni Sulani.
Explained since entering Adam's hospital the Medan Owner last May 8, 5 people have from 6 casualties died. They were Roy Karo-Karo (19) that died the date 9/5, Anta boru Ginting (29) that died tgl 10/5, Boni Karo-Karo (35) died 12/5, Rafael Ginting (10) and Brenata Tarigan (1,5) that died 14/5.
At this time remained at Jones Ginting (25) that still was remaining and was treated in this hospital. Now one other casualty, Obviously boru Ginting (35) that could enter and afterwards ran from RS Adam the Owner, currently is treated in RS Elisabeth Medan.
Ditambah korban Puji boru Ginting (49) yang merupakan keluarga korban dan meninggal tanggal 4/5 sebelum sempat diperiksa sampel darahnya, maka total korban flu burung yang meninggal mencapai 6 orang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama Dinas Peternakan, unggas yang ada di desa tersebut maupun pupuk kandang yang masuk ke desa yang diduga menjadi sumber penularan ternyata negatif virus flu burung.
?Untuk lebih memastikan apakah unggas ataupun binatang lain di desa tersebut terinfeksi virus tersebut, Dinas Peternakan Sumut juga sudah mengirimkan specimen dari babi, itik dan hewan lainnya yang ada di desa tersebut ke Balai Veteriner Bandung. Mudah-mudahan hasilnya secepatnya bisa diketahui,? kata Kepala Dinas Peternakan Sumut A Rahim Siregar.
Rahim mengakui pihaknya kesulitan meneliti media penularan virus tersebut. Karena keluarga maupun warga satu kampung korban tidak ada yang bersedia memberikan keterangan tentang kondisi awal ketika korban mulai mengalami demam.
Informasi yang diperoleh, hanya menyatakan bahwa korban yang masih satu keluarga dan rumahnya berdempetan ini sebelumnya mengadakan acara keluarga dan makan bersama. Dan masih ditelusuri apakah makanan pada saat makan bersama tersebut yang menjadi wadah penularan virus tersebut.
Sementara kondisi Jones Ginting menurut Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RS Adam Malik Medan Prof dr Luhur Suroso sudah semakin membaik. Yang ditandai dengan hasil foto roentgen bahwa kondisi pneumonia sudah semakin berkurang, batuk dan demam juga sudah berkurang.
?Kita tetap melakukan penanganan intensif dan trennya semakin membaik. Kemungkinan daya tahan kekebalan tubuh Jones lebih bagus dari korban lain. Sehingga dia bisa selamat walaupun sempat mengalami pneumonia luas,? kata Luhur Suroso.
Untuk menyelidiki secara lebih luas lagi, Dinas Kesehatan Propsu telah melakukan specimen (pengambilan darah) dan usap tenggorok kepada 59 orang, baik terhadap perawat RS Elisabeth (5 orang), warga pasien (2 orang) maupun masyarakat di Desa Kubu Simbelang Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo, RS Kaban Jahe, Klinik G Mandala, Klinik Melva, RS Ester dan RS H Adam Malik Medan.
Semua specimen sedang dalam pemeriksaan Puslitbangkes dan semua specimen tersebut, termasuk terhadap kontak serumah maupun kontak pelayanan kesehatan, terus dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan selama 10 hari. Apabila dalam 10 hari tersebut ada yang demam maupun sesak, langsung dilakukan pengobatan dengan tablet Tamiflu. ?Seluruh yang diperiksa ini sudah teridentifikasi datanya, dan Dinkes Sumut telah mengirimkan 400 tablet Tamiflu ke Dinas Kesehatan Karo,? jelasnya.
DIBANGUN
Gubsu mengakui bahwa penanganan korban flu burung di RS H Adam Malik belum maksimal. Salah satu faktor yakni ruangan isolasi yang tersedia sempit atau relatif kecil. Untuk itu, Pempropsu akan membangun ruangan khusus yang representatif khusus penanganan kasus epidemik. (A12/C13/l)
</TD></TR></TBODY></TABLE>
http://www.hariansib.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4801&Itemid=9