Re: Indonesia: H5N1 in poultry January 1, 2010 +
Re: Indonesia: H5N1 in poultry January 1, 2010 +
H5N1 bird flu spreads into seven districts : Central Investigation and Testing Veterinary
Bahasa Indonesia original text below
That H5N1 Virus Spreader Central Kalimantan to South Kalimantan
Friday, January 8, 2010 | 08:04 WITADibaca
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/32056/justru-kalteng-penyebar-virus-h5n1-ke-kalsel
Chickens infected with H5N1 virus should be isolated.
BANJARMASIN, FRIDAY - There are accusations
spread of bird flu in Central Kalimantan (Central Kalimantan) is derived from the supply of chicken from South Kalimantan (Kalimantan). Head of South Kalimantan Livestock, Maskamian Andjam spoke.
In addition to denying, under Maskamian also blamed as a disseminator Kalteng H5NI virus (bird flu) in Banua. "Instead of spreading the Central Kalimantan to South Kalimantan virus. Because, positive chicken bird flu first time we have found comes from the Kapuas," he said in Banjarmasin, Thursday (7/1/2010).
Chicken was found in Pelaihari, Tanahlaut on December 18, 2009. In response to that, the service commissioned officers and farm vet who had received training about the bird flu virus in International to handle the case.
With rapid test equipment (test at once) for USD 150 thousand and change reaction pollinary worth USD 800 thousand, officers conducting searches directly into the chicken coop, chicken coop. "Based on tests conducted and officers combing, there is a positive and negative," he said.
Chickens tested positive for bird flu found in five farms. To anticipate the spread, as many as 7 thousand chickens were burned. "A few days later, the Sungaijelai, Tanahlaut also found in chickens which died suddenly and tested positive for bird flu," said Maskamian.
He also considered allegations were unfounded because the chicken from the South Kalimantan which it is supplied to Kateng have an average weight of 1.7 kilograms per cow. "This means that only healthy chickens that are able to have such weight," he said.
Finally, continued Maskamian, found 11 chickens stricken with the virus was positive in the North and Guntungpayung Banjarbaru, Banjarbaru. Chicken is also directly burned. "We also continue to conduct surveillance of all poultry farms," he said.
While South Kalimantan Governor Rudy Ariffin said there should not blame each other attitude in handling bird flu cases in South Kalimantan and Central Kalimantan. "We do not know if the chicken in Central Kalimantan, was also hit by the virus had been sold to new South Kalimantan. Because of the distance and fast trading system is, so do not fit if only to blame," he said.
Test Laboratory
Contrary statements made Kabid Animal Husbandry Department of Health Hewam Kapuas, Central Kalimantan, Rudjito. He emphasized that H5NI virus in Central Kalimantan - the first time found in the Kapuas - comes from Pelaihari.
"This is based on laboratory test results on samples of dead chickens by the
Central Investigation and Testing Veterinary (BPPV) Banjarbaru. Based on information from the owner, the chicken came from Pelaihari," he said.
When asked where the ranch owner to buy the chickens, said Rudjito not sure. "We'll explore, in which area," he said while expressing
the spread of the H5N1 virus penetrated into the seven districts.
Based monitoring BPost, the price of chicken in the Kapuas still normal. A chicken trader in the region Koyang Bridge, Jalan Mawar Kualakapuas, H Hamsani disclose the price of chicken meat was Rp 16 thousand per kilogram.
(coi / ami)
--- Original -> Bahasa Indonesia
Justru Kalteng Penyebar Virus H5N1 ke Kalsel
Jumat, 8 Januari 2010 | 08:04 WITADibaca 43
Ayam terjangkit virus H5N1 harus diisolasi.
BANJARMASIN, JUMAT - Ada tudingan penyebaran flu burung di Kalimantan Tengah (Kalteng) berasal dari pasokan ayam dari Kalimantan Selatan (Kalsel). Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Maskamian Andjam angkat bicara.
Selain menyangkal, Maskamian juga balik menuding Kalteng sebagai penyebar virus H5NI (flu burung) di Banua. "Justru Kalteng yang menyebarkan virus itu ke Kalsel. Karena, ayam positif flu burung yang kali pertama kami temukan berasal dari Kapuas," ucapnya di Banjarmasin, Kamis (7/1/2010).
Ayam itu ditemukan di Pelaihari, Tanahlaut pada 18 Desember 2009. Menyikapi itu, dinas peternakan menugaskan petugas dan dokter hewan yang sudah mendapatkan pelatihan tentang virus flu burung secara Internasional menangani kasus itu.
Dengan peralatan rapid tes (tes seketika) seharga Rp 150 ribu dan pollinary change reaction seharga Rp 800 ribu, petugas langsung melakukan penyisiran ke kandang ayam-kandang ayam. "Berdasar tes dan penyisiran yang dilakukan petugas, ada yang positif dan negatif," katanya.
Ayam yang positif terkena flu burung ditemukan di lima peternakan. Untuk mengantisipasi penyebaran, sebanyak 7 ribu ayam dibakar. "Selang beberapa hari kemudian, di Sungaijelai, Tanahlaut juga ditemukan ayam yang mati mendadak dan positif terkena flu burung," ujar Maskamian.
Dia juga menilai tudingan itu tidak beralasan karena ayam dari Kalsel yang dipasok ke Kateng itu rata-rata memiliki berat 1,7 kilogram per ekor. "Artinya, hanya ayam yang sehat yang mampu memiliki berat seperti itu," tegasnya.
Terakhir, lanjut Maskamian, ditemukan 11 ayam yang positif terserang virus itu di Banjarbaru Utara dan Guntungpayung, Banjarbaru. Ayam tersebut juga langsung dibakar. "Kami juga terus melakukan pengawasan terhadap semua peternakan ayam," ucapnya.
Sedangkan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengatakan sebaiknya tidak ada sikap saling menyalahkan dalam penanganan kasus flu burung di Kalsel dan Kalteng. "Kita kan tidak tahu, kalau ayam di Kalteng itu juga sudah terkena virus dulu baru dijual ke Kalsel. Karena jarak dan sistem perdagangan yang cepat inilah, sehingga tidak pas kalau hanya menyalahkan," katanya.
Uji Laboratorium
Pernyataan sebaliknya dilontarkan Kabid Kesehatan Hewam Dinas Peternakan Kapuas, Kalteng, Rudjito. Dia menegaskan virus H5NI yang di Kalteng --kali pertama ditemukan di Kapuas-- berasal dari Pelaihari.
"Ini berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sampel ayam mati oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Banjarbaru. Berdasar keterangan dari pemiliknya, ayam itu didatangkan dari Pelaihari," katanya.
Saat ditanya tempat pemilik peternakan membeli ayam-ayam itu, Rudjito mengatakan belum bisa memastikan. "Nanti kami telusuri, di mana daerahnya," ujarnya sembari mengungkapkan penyebaran virus H5N1 juga merambah di tujuh kecamatan.
Berdasar pantauan BPost, harga ayam di Kapuas masih normal. Seorang pedagang ayam di di kawasan Jembatan Koyang, Jalan Mawar Kualakapuas, H Hamsani mengungkapkan harga daging ayam masih Rp 16 ribu per kilogram.
(coi/ami)