3 from 6 patients Suspect Bird Flu died
3 from 6 patients Suspect Bird Flu died
<table class="contentpaneopen"><tbody><tr><td class="contentheading" width="100%">3 from 6 patients Suspect Bird Flu died </td><td class="buttonheading" align="right" width="100%">

</td><td class="buttonheading" align="right" width="100%">
</td><td class="buttonheading" align="right" width="100%">
</td></tr></tbody></table><table class="contentpaneopen"><tbody><tr><td colspan="2" align="left" valign="top" width="70%">Written by editorial staff </td></tr><tr><td class="createdate" colspan="2" valign="top">
On Thursday, on May 11 2006 </td></tr><tr><td colspan="2" valign="top">
Medan (SIB)
Another the patient suspect bird flu from the Fortification Village Simbelang three bows
Karo died. This patient was named Ananta br Ginting (29) died in space of the Longing isolation A on Wednesday (10/5) struck 05.00 WIB in RSUP H Adam the Owner.
Therefore casualties died suspect bird flu became 3 people from 6 patients. The first patient Fuji br Ginting died, on Thursday (4/5) in RS Elisabeth Medan, afterwards the son of his eldest child of Roy Karo-karo (19) died in RSU H Adam the Owner, on Tuesday (9/5) struck 10.30 WIB.
Officially the Propsu Health could not confirm whether Fuji suspect bird flu. Because of the RS Elisabeth side confirmed to the Health Service did not have their patient who died resulting from suspect bird flu. However his side continued to send his official to check again the medical data of Fuji br Ginting.
According to Director RSUP H Adam the Owner Drg Armad P Daulay MKes in his press information with the Health Service, the Livestock Breeding Service and the Infokom Propsu Body, on Wednesday (10/5) in the Gubsu office, the number of patients suspect bird flu remained at 3 people.
Be present at this press conference Kadis Livestock Breeding Propsu Ir the Siregar Uterus, Kadis the North Sumatran Health Dr Hj Fatni Sulani, Kaban Infokom Edy Sofyan the FOLDER and the Chairman of the team of the handling and the control of the patient suspect bird flu Dr M Nur Rasyid Lubis Sp.B (Fics).
The three patients were Jones Ginting (25), Boni Karo-karo (18) and a female pre-schooler was named Renatha br Tarigan 1.5 years. SIB observation in isolation space, one of the patients Boni Karo-karo his condition was critical. To his body was installed the oxygen respiratory tract and the other detector. In fact in the meeting with the reporter in the Gubsu office, Director RSU H Adam the Owner stated the condition for the three patients was still being stable.
According to Drg Armand P Daulay, Roy Karo-karo suffered breathless difficult and feverish high struck 10.30 WIB and finally died. The same sign was also experienced by Ananta br Ginting, when being done the photograph torax (the lungs) the condition for the lungs of the two casualties suffered difficult pneumonia.
Anticipation that was carried out by the hospital side was to give medicine Tami Flu 3 x 75 mg to mature and for pre-schoolers was adapted to his weight, moreover the patient was also given Smotagsin medicine (anti the fever) as well as antibiotik the high dose. Both Roy and Ananta when undergoing the intensive maintenance was given teraphy oxygen.
Adam's hospital the Owner provided 2 rooms of the isolation to suspect their respective bird flu the room contained 10 bed and will provide the room again to anticipate if the jump of the sufferer happening.
Kadis Livestock Breeding Ir the Siregar Uterus said, the story of the sufferer suspect bird flu in this location was 2 nonpedigreed chickens belonging to Fuji died was followed by the Fuji death in RS Elisabeth. Afterwards 5 people suspect bird flu was reconciled to RSU H Adam the Owner. After getting this report on the Livestock Breeding Service did the meeting officially related the Karo Regional Government.
Lalu disepakati semua unggas pada radius 3 Km dari lokasi kejadian untuk dimusnahkan. Jumlah unggas yang akan dimusnahkan berjumlah 2000 ekor dengan cara dibakar dan tiap ekor mendapat ganti rugi Rp 10.000. Namun kata Rahim, dinas terkait belum bisa memastikan apakah itu flu burung atau tidak karena masih menunggu hasil test darah korban dan unggas yang mati yang sudah dikirim ke Puslitbangkes Depkes RI yang hasilnya diketahui 2 hari kedepan.
Selama ini kata Kadis Kesehatan Sumut suspect flu burung di Sumut hanya pada unggas seperti yang terjadi di Binjai, Medan Estate Deliserdang. Saat itu unggas peliharaan mati mendadak, namun suspect pada manusia belum ditemui. ?Suspect pada manusia baru kita temui di Tanah Karo sekarang ini, namun hasil pemeriksaan darahlah yang memastikan apakah itu flu burung atau tidak,? kata Fatni.
Kejadian di Tanah Karo sudah dilaporkan ke Gubsu Drs Rudolf M Pardede. Dinas terkait sudah mengirim tim ke lokasi dengan membawa peralatan desk infektan dan brosur-brosur tentang bahaya flu burung yang akan dibagikan kepada masyarakat.
Kematian Fuji diketahui setelah keluarganya dirujuk ke RS Adam Malik. Pihak keluarga bercerita proses kematian Roy sama dengan kematian ibunya (Fuji) yaitu sesak nafas. Apalagi riwayatnya adalah kematian 2 ekor ayam secara mendadak dan mengkonsumsi daging ayam potong yang dibeli dari pasar.
Baik Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan menolak anggapan kecolongan dengan kejadian tersebut. Fatni Sulani mengetahui kejadian itu Selasa (9/5) setelah kematian Roy dan 4 penderita lainnya. Setelah kejadian itu tim langsung dikirimkan ke lokasi dan memberi tindakan preventif.
?Begitu ada kabar korban pertama meninggal di RS Elisabeth kami langsung menanyakan ke RS Elisabeth ternyata tidak ada yang suspect flu burung. kami tahu kabar tentang suspect tanggal 9, kenapa dibilang tidak koordinasi,? tegas Fatni.
MENGUNGSI
Isu Suspect Flu Burung semakin meresahkan masyarakat Tanah Karo, secara khusus bagi warga Desa Kubu Simbelang Kecamatan Tigapanah. Hal ini berawal, 6 pasien suspect flu burung dialami warga Desa Kubu Simbelang, 3 di antaranya telah meninggal dunia di RSU Adam Malik Medan.
Darta Ginting warga Kubu Simbelang yang dimintai keterangannya, Rabu (10/5) di sela-sela mengadakan acara duka di rumah keluarga korban yang masih famili dekat dengannya, berharap agar Pemkab karo segera membuat tindakan persuasif di desanya. Selain melakukan penyemprotan, Pemkab Karo juga harus membuat tindakan pencegahan awal dengan menghadirkan tenaga-tenaga medis, ujarnya.
Dari lokasi rumah korban Anta br Ginting dan Puji br Ginting yang kebetulan berdampingan rumah, ketika ditinjau langsung wartawan, Rabu (10/5), ternyata beberapa tetangganya mengungsi dari tempat tinggalnya Tarigan yang kebetulan tinggal di dekat rumah korban mengungsi ke tempat orangtuanya. Namun beberapa warga yang dimintai keterangannya menyebutkan bahwa tetangga sebelahnya takut tertular penyakit tersebut dari lingkungan rumah korban. Bahkan ada sebagian warga yang melintas di sekitar rumah korban melakukan tutup hidung, kemungkinan karena takut tertular penyakit tersebut.
Siaga 24 jam
Bupati Karo Drs DD Sinulingga yang dikonfirmasi melalui Kabag Humas Pemkab Karo Robert Peranginangin seusai rapat Muspida Plus, Rabu (10/5) telah memerintahkan seluruh instansi terkait agar dokter Puskesmas se- Kabupaten Karo siaga 24 jam untuk memantau adanya gejala penyakit seperti gejala flu burung serta Camat juga diperintahkan agar memonitoring warganya yang mengalami gejala tersebut.
Selain itu, Bupati Karo juga telah membentuk posko di perbatasan Karo untuk mengantisipasi masuknya unggas dari luar daerah yang terjangkit flu burung. Untuk itu, Dinas Pertanian dan Peternakan bekerjasama dengan Kapolres Tanah Karo juga sekaligus melakukan pemeriksaan, bagi kendaraan yang membawa kandang unggas, akan memberlakukan standvas selama 12 jam bagi angkutan yang membawa pupuk kandang dari luar daerah. Penahanan truk pengangkut kandang unggas di perbatasan menurut Robert, agar virus yang ada dalam kandang tersebut selama 24 jam dapat mati, dan tidak aktif menularkan virus flu burung.
Katanya, Dinas Kesehatan Propinsi juga akan ikut membantu dengan melakukan penyemprotan secara massal, serta melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada seluruh masyarakat baik melalui spanduk atau poster-poster.
GUBSU: BELUM DIKETAHUI PENYEBABNYA SECARA PASTI
Sementara itu, untuk menyelidiki penyebabnya, Gubsu Drs Rudolf M Pardede telah menginstruksikan tim turun ke daerah tersebut dan mengirim sampel darah korban ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Departemen Kesehatan RI.
?Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab meninggalnya korban di Rumah Sakit H Adam Malik begitu juga korban yang sedang dirawat. Saat ini tindakan yang dilakukan bersifat emergency warning dan sudah ada pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan bersama Dinas Peternakan,? kata Rudolf M Pardede kepada wartawan, Rabu (10/5) di Kantor Gubsu.
Untuk menghindari keresahan dan penantian masyarakat Sumut mengenai kasus suspect flu burung tersebut, Gubsu menyatakan dalam dua minggu ini akan diketahui hasil penelitiannya secara pasti dari Puslitbangkes. Dan, dalam dua hari ini Dinas Peternakan sudah bisa memastikan apakah unggas di daerah tersebut terserang benar virus avian influenza (AI) atau tidak.
PRIORITAS PENGAWASAN
Sementara itu, Menteri Kesehatan dr Fadillah Supari mengatakan, dengan adanya kasus kematian warga Sumut yang dicurigai kuat sebagai suspect flu burung maka Sumut akan bisa masuk dalam daerah yang diprioritaskan untuk pengawasan flu burung di Indonesia setelah DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Banten dan Lampung yang selama ini dikenal sebagai daerah yang paling tinggi terkena flu burung.
Meski demikian menanggapi adanya kematian yang dicurigai kuat terjangkit flu burung di Sumut itu menurut Menteri hal itu masih menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium.
Menurut Menteri menyikapi hal itu pihaknya telah memerintahkan kepada instansi terkait di Sumut dan hal itu sedang dalam penelitian Dinas Peternakan Sumut yang datang ke lokasi untuk meneliti apa sebenarnya sumber penyebab infeksi. Tapi pihaknya belum tahu apakah penyebabnya memang bersumber dari pupuk.
Kata Menteri, kasus flu burung akan bisa menjangkiti manusia selama masih ada unggas yang terinfeksi. Jadi sebenarnya kalau sudah ada ketahuan di daerah itu ada korban suspect flu burung menurutnya seharusnya ayam di daerah itu harus bersih.
Menteri menceritakan pengalamannya di Vietnam saat terjadi kasus-kasus flu burung seluruh ayam selama enam bulan lamanya tidak ada di seluruh negeri. ?Mereka itu tidak ada minta kompensasi karena unggasnya dimatikan. Karena mereka patuh pada pemerintahnya,? kata Menkes. (C13/RT/A12/C6/A6/y)
</td></tr></tbody></table>
http://www.hariansib.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4489&Itemid=9